Blogger Widgets Belajar Islam itu Mudah: Hakikat Maulid Nabi

Senin, 20 Januari 2014

Hakikat Maulid Nabi

Tanggal 12 Rabi’ul Awal telah menjadi salah satu hari istimewa bagi sebagian kaum muslimin. Hari yang dianggap sebagai hari kelahiran Nabi akhir zaman, sang pembawa risalah penyempurna, Nabi  Muhammad n. Perayaan dengan berbagai acara dari mulai pengajian dan dzikir jama’ah sampai permainan dan perlombaan digelar untuk memeriahkan peringatan hari yang dianggap istimewa ini. Bahkan ada diantara kelompok thariqot yang memperingati maulid dengan dzikir dan syair-syair yang isinya pujian-pujian berlebihan kepada Nabin. Mereka meyakini bahwa ruh Nabin yang mulia akan datang di puncak acara maulid. Oleh karena itu, pada saat puncak acara pemimpin thariqot tersebut memberikan komando kepada peserta dzikir untuk berdiri dalam rangka menyambut kedatangan ruh Nabin yang hanya diketahui oleh pemimpin thariqot.
Sungguh aqidah semacam ini sama persis dengan aqidah orang-orang hindu yang meyakini bangkitnya roh leluhur. Namun sayangnya sebagian kaum muslimin menganggap hal ini sebagai bentuk ibadah.Inna lillaahi wainnaa ilaihiraaji’un,…
Kapankah Nabi n dilahirkan?
1. Bulan kelahiran   
Pendapat yang paling masyhur, beliau n dilahirkan di bulan Rabi’ul Awal. Dan ini adalah pendapat mayoritas ulama. Bahkan dikatakan oleh Ibnul Jauzi sebagai kesepakatan ulama. Namun disana ada sebagian yang berpendapat bahwa beliau n dilahirkan di bulan safar, Rabi’ul Akhir, dan bahkan ada yang berpendapat beliau n dilahirkan di bulan Muharrom tanggal 10 (hari Asyuro). Kemudian sebagian yang lain berpendapat bahwa beliau n lahir di bulan Ramadhon. Karena bulan Ramadhon adalah bulan dimana beliau n mendapatkan wahyu pertama kali dan diangkat sebagai nabi. Pendapat ini bertujuan untuk menggenapkan hitungan 40 tahun usia beliau n ketika beliau n  diangkat sebagai nabi.
2. Tanggal kelahiran
Dalam sebuah hadist Nabi n pernah ditanya tentang puasa hari senin. Kemudian beliau n menjawab: “ Hari senin adalah hari dimana aku dilahirkan dan pertama kali aku mendapat wahyu.” (HR. Muslim).
Di antara pendapat yang disampaikan adalah: Hari senin Rabi’ul Awal (tanpa ditentukan tanggalnya), tanggal 2 Rabi’ul Awal, tanggal 8, 10, 12, atau 17 Rabiul Awal. Berdasarkan penelitian ulama ahli sejarah Muhammad Sulaiman Al Mansurfury dan ahli astronomi Mahmud Basya disimpulkan bahwa hari senin pagi yang bertepatan dengan permulaan tahun dari peristiwa penyerangan pasukan gajah dan 40 tahun setelah kekuasaan Kisra Anusyirwan atau bertepatan dengan 20 atau 22 april tahun 571 Masehi, hari senin tersebut bertepatan dengan tanggal 9 Rabi’ul Awal. (Ar Rahiqum Makhtum).
Tanggal wafatnya Beliau n
Para ulama ahli sejarah menyatakan bahwa beliau n meninggal pada hari senin tanggal 12 Rabi’ul Awal tahun 11 H dalam usia 63 tahun lebih 4 hari. Satu catatan penting yang perlu kita perhatikan dari dua kenyataan sejarah di atas. Antara penentuan tanggal kelahiran Nabin dan tanggal wafatnya beliau n. Kenyataan ini menunjukkan bahwa para ulama tidak banyak memberikan perhatian terhadap tanggal kelahiran Nabi n. Karena penentuan kapan beliau n dilahirkan sama sekali tidak terkait dengan hukum syari’at. Beliau n dilahirkan tidak langsung menjadi nabi, dan belum ada wahyu yang turun di saat beliau n dilahirkan. Beliau n baru diutus sebagai seorang nabi di usia 40 tahun lebih 6 bulan. Hal ini berbeda dengan hari wafatnya Nabi n, seolah para ulama sepakat bahwa hari wafatnya beliau n adalah tanggal 12 Rabiul Awal tahun 11 H. Hal ini karena wafatnya beliau n berhubungan dengan hukum syari’at. Wafatnya beliau n merupakan batas berakhirnya wahyu Alloh yang turun. Sehingga tidak ada lagi hukum baru yang muncul setelah wafatnya beliau n.
Maka jika ada pertanyaan, tanggal 12 Rabi’ul Awal itu lebih dekat sebagai tanggal kelahiran ataukah tanggal wafatnya Nabi n ?? Oleh karena itu, sikap sebagian besar kaum muslimin yang selama ini memperingati hari maulid Nabi n sebenarnya mirip dengan tindakan kaum nasrani dalam memperingati tanggal 25 Desember. Mereka beranggapan bahwa itu adalah tanggal kelahiran Yesus padahal sejarah membuktikan bahwa Yesus tidak dilahirkan di bulan Desember, naudzubillah
Sejarah munculnya peringatan maulid
Kelompok yang pertama kali mengadakan maulid adalah kelompok Bathiniyah, yang mereka menamakan dirinya sebagai bani Fatimiyah (Syi’ah) dan mengaku sebagai keturunan Ahlul Bait (keturunan Nabi n). Disebutkan bahwa kelompok batiniyah memiliki 6 peringatan maulid, yaitu maulid Nabi n, maulid Ali bin Abi Tholib radhiallahu ‘anhu, maulid Fatimah, maulid Hasan, maulid Husain dan maulid penguasa mereka. Daulah Bathiniyah ini baru berkuasa pada awal abad ke-4 H. Oleh karena itu, para ulama sepakat bahwa maulid Nabi n baru muncul di zaman belakangan, setelah berakhirnya massa tiga abad yang paling utama dalam umat ini (al quruun al mufadholah). Artinya peringatan maulid ini belum pernah ada di zaman Nabi n dan para sahabat, tabi’in dan para Tabi’ tabi’in. Tujuan utama daulah ini mengadakan peringatan maulid Nabi n adalah dalam rangka menyebarkan aqidah dan kesesatan mereka (Syi’ah). Mereka mengambil simpati kaum muslimin dengan kedok cinta ahlul bait Nabi n. (Dhahiratul Ihtifalbil Maulid An Nabawi karya Abdul Karim Al Hamdan)
Setelah kita memahami hakekat peringatan maulid yang sejatinya digunakan sebagai sarana untuk menyebarkan aqidah kekafiran mereka…akankah kita selaku kaum muslimin yang membenci mereka melestarikan syi’ar orang-orang yang memusuhi ajaran Nabi n ?? Perlu kita ketahui bahwa merayakan maulid bukanlah wujud cinta kita kepada Nabi n. Bukankah para sahabat, ulama-ulama Tabi’in, dan Tabi’ut Tabi’in adalah orang-orang yang paling mencintai Nabi n. Namun tidak tercatat dalam sejarah bahwa mereka merayakan peringatan maulid, Akankah kita katakan mereka tidak mencintai Nabi n. Cinta yang sejati bukanlah dengan merayakan hari kelahiran seseorang… namun cinta yang sejati adalah dibuktikan dengan ketaatan kepada orang yang dicintai. Dan bagian dari ketaatan kepada Nabi n adalah dengan tidak melakukan perbuatan yang tidak beliau ajarkan.
Alloh Swt Berfirman :
“Sungguh Alloh telah menganugerahkan kepada orang-orang yang beriman yaitu ketika Alloh mengutus di antara mereka seorang Rosul dari kalangan mereka yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, menyucikan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al-Kitab dan Al-Hikmah (As-Sunnah), padahal sebelumnya mereka berada dalam kesesatan yang nyata.”                 (QS. Ali Imran[03] : 164).
Wallahu Waliyyut Taufiq.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar